Selasa, 22 November 2016

selamat jalan!

Dengan langkah cepat aku menyusuri lorong dingin rumah duka. Aku mengutuki diriku yang terlambat menghadiri acara pemakaman Nenekku. Setelah menemui ibu, aku segera mencari tempat duduk di barisan khusus keluarga. Semua tamu menatapku dengan wajah mengasihani dan bosan. Acara belum juga dimulai, masih menunggu salah satu kerabat dari jauh. Sudah dua hari Nenekku disemayamkan di sini. Dibaringkan dalam sebuah peti yang indah, didandani begitu cantik, diberi pakaian dan sepatu terbaik serta disirami wewangian yang menyamarkan aroma tak sedap dari proses pembusukan.

Lagu-lagu sedih dinyanyikan oleh anggota paduan suara. Beberapa keluargaku terlihat bengkak matanya akibat menangis terus menerus. Tentu saja lagu itu semakin membuat tangisan mereka meledak. Karena sebuah emosi dapat menulari individu lainnya, maka seisi ruangan itu pun perlahan mulai diselimuti oleh kesedihan. Tak banyak tamu yang kukenali wajahnya. Beberapa sepupu jauh, mungkin juga saudara yang tak lagi kupahami silsilahnya dalam kekerabatan di keluarga besarku. Kompak berpakaian hitam, dengan kertas doa di tangan masing-masing, semua tampak khitmat untuk mengikuti Malam Kembang yang akan di mulai.

Aku lapar, itu yang terlintas dalam pikiranku sesaat. Setelah pulang dan keluar dari kantor lalu menerjang lalu lintas yang tak pernah ramah, aku tak sempat mengisi perutku. Saat jam makan siang pun tak kupakai untuk makan karena terlalu sibuk membicarakan pekerjaan dengan atasanku. Lapar, sangat lapar. Kepalaku menjadi pusing karena rasa lapar. Untuk menghindari kejadian tubuhku hilang keseimbangan atau bahkan kesadaran, aku memutuskan untuk duduk. Beberapa orang melihatku, mungkin juga menangkap wajahku yang memucat. Paman yang berdiri di sebelahku segera mengusap tangannya di bahuku sebagai tanda simpatik dan menguatkan, tangisannya semakin kencang. Aku kelaparan.

Setelah hampir menghabiskan setengah isi dari botol air mineral, pikiranku perlahan kembali fokus. Tubuhku mulai kembali menghangat dan normal. Suasana sedih masih menyelimuti ruangan. Aku memperhatikan ritual yang sedang dilakukan untuk mendoakan Nenekku. Semua orang seolah menghantarkannya untuk pergi dengan ikhlas ke Surga, ke Alam Lain, atau entah apa namanya. Aku penasaran, apa tanggapan Nenek melihat semua anggota keluarga, rekan, dan entah siapapun yang mengenalnya yang berkumpul dan bersedih atas kepergiannya. Bahagiakah Ia? Atau membuatnya semakin berat untuk meninggalkan semuanya? Atau Ia tak peduli sama sekali karena tak mengetahui lagi apa yang sedang dilakukan orang-orang atas jazadnya? Yang juga mengusik pikiranku, sudah bahagiakah Ia sekarang?

Terlalu banyak pikiran yang jawabannya pun tak kuketahui. Terlalu banyak juga energi yang terkuras sehingga rasa lapar sekali lagi kembali menggetarkan tubuhku. Aku memandang sekitar, mencoba mencari makanan yang tersedia. Tak ada satu pun, sepertinya para tamu belum waktunya untuk makan atau menyemil sesuatu. Aku memandang ke arah pintu keluar. Berharap bisa melintasi ruangan untuk menuju ke pintu agar bisa mencari makanan di luar. Tapi sangat tidak baik rasanya harus melewati semua orang dan melintasi ruangan begitu saja. Aku terus memandang ke arah sana dengan penuh harap. Beberapa petugas rumah duka keluar masuk sehingga pintu terbuka. Saat itu lah, sekelebat saja, dari celah pintu yang terbuka, aku melihat Ia, Nenekku, berdiri tepat di depan pintu. Dengan sepiring makanan kesukaanku di tangannya, Ia tersenyum melihat ke arahku. Senyum hangat yang selalu Ia berikan ketika akan menyuapiku. Aku pun tersenyum, aku tahu Ia kini sudah bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar