Kamis, 21 Maret 2013

malam

Malam, saat cahaya matahari berhenti sejenak menyinari permukaan bumi. Saat langit berubah menjadi transparan dan menampilkan isi angkasa. Ribuan, bahkan jutaan bintang terhampar, berkilauan bagai berlian, itu apabila kau beruntung tinggal di wilayah yang masih jauh dari polusi udara maupun polusi cahaya. Dari halaman rumahku, melihat langit begitu mengenaskan. Langit sering tertutup awan, saat cerah pun kilau bintang tak tampak cemerlang, belum lagi terhalang atap rumah dan dahan pepohonan, ditambah lagi lintangan kabel-kabel listrik dan telepon. Padahal itu baru sebatas ingin melihat bintang. Di bagian bumi yang lain, langit dapat menampilkan pertunjukkan yang berbeda dan menakjubkan. Hamparan Milky Way yang memukau, aurora yang indahnya tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, ada lagi hujan bintang yang terjadi pada periode waktu yang terbilang langka. Mungkin masih banyak lagi pertunjukkan langit yang ditampilkan pada bagian lain bumi. Kuharap bisa menyaksikannya sendiri, suatu saat nanti.

Malam, ketika suasana menjadi lebih tenang. Ketika tak banyak aktivitas yang dilakukan orang-orang di luar sana. Ketika kegelapan menguasai seluruh kehidupan dan udara menjadi dingin. Malam membuatku nyaman, dapat mengekspresikan seluruh pikiranku. Merenung, mengistirahatkan kepala dari bisingnya kehidupan. Diberi kesempatan oleh alam semesta untuk sejenak, kembali menjadi diri sendiri. Dalam gelap, seolah sembunyi dari sorotan cahaya yang menelanjangi diri, kembali jujur pada hati. Langit yang gelap bagai ruang imajinasi, menumbuhkan pemikiran-pemikiran kecil hingga terliar. Membayangkan segala hal yang dapat terjadi, saat ini maupun di kemudian hari. Siang tak dapat memberikan suasana ini, karena itu aku menyukai malam.