Selasa, 21 Mei 2013

meninggalkan kesunyian

Air panas telah dituangkan dalam poci berisi daun-daun teh. Sepiring biskuit yang baru saja keluar dari oven telah disandingkan bersama cangkir bermotif bunga yang sepadan dengan poci itu. Waktu minum teh yang tak pernah dilewatkan oleh Maya dan selalu dilakukan dengan persiapan yang matang. Seorang diri menikmati teh di teras rumahnya. Rumah bergaya kuno khas peranakan Cina Belanda, peninggalan Kakek dan Ayahnya yang kini ditempatinya seorang diri diusia setengah abad lebih. Maya tak pernah menikah dan memutuskan tak ingin menikah. Ia muak dengan segala tradisi pernikahan dan cinta yang dianggapnya sebagai sumber penderitaan. Di rumah itu, ada seorang pengurus rumah yang hanya datang di siang hari, Bibi Arum, yang juga sudah lama bekerja bersamanya.

Maya sangat menyukai ketenangan, dan waktu minum teh bagai puncak dari ritual kedamaian dalam hidupnya setiap hari. Hanya memandang hamparan ladang jagung dan kebun kopi yang mengelilingi rumah besarnya. Salah satu sisa warisan Ayahnya yang masih bisa bertahan yang menjadi sumber keuangan Maya. Tak ada tetangga dan jauh dari pemukiman penduduk. Pekerja-pekerja kebun dan ladangnya pun jarang berinteraksi dengannya. Ia bagai telah menarik diri dari keramaian dunia. Ia menciptakan surganya sendiri di rumah itu.

Kehidupannya teratur dan aktivitasnya di dalam rumah tak pernah berubah sejak ia remaja. Seusai minum teh, ia akan menyiram dan merapikan bunga-bunga di dalam pot kecil yang diletakkan di teras. Dilanjutkan dengan mandi sore, menyantap hidangan yang telah disiapkan Bibi Arum, menyulam, membaca buku dan tidur. Namun malam itu surga kesunyiannya terkoyak. Ia terbangun dengan jantung berdebar karena suara bising dan keras. Dengan susah payah ia bangun, masih mengenakan gaun tidur, tubuh rentanya menuruni tangga dengan senjata api yang digenggam erat.

Dengan gemetar ia membuka pintu dan perlahan melihat keadaan di luar. Tak melihat apa pun, ia memberanikan melangkah lebih jauh hingga turun dari tangga teras rumahnya. Ada suara yang berasal dari ladang jagung di depan Maya. Seperti suara seseorang yang berjalan dan tanaman jagung yang bergoyang. Ia semakin gemetar namun bagai tak ada rasa takut ia memasuki ladang jagung dengan senjata yang siap ditembakkan. Dengan susah payah ia berjalan melewati sela-sela tanaman jagung, terus berjalan mengikuti suara yang didengarnya.

Tak lama berjalan langkahnya terhenti. Tubuhnya mematung dan matanya membelalak. Sebuah benda besar berada di depannya. Besar sekali hingga ia begitu takjub dan perlahan melangkah untuk mendekat. Tak lama, dari benda itu terbuka sebuah pintu dan mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Maya tak dapat melihat karena silau. Ia menutup matanya dengan tangan dan perlahan mengintip untuk melihat hingga penglihatannya dapat menyesuaikan dengan silau cahaya. Sesosok makhluk berdiri di depan pintu benda besar itu. Makhluk itu transparan dengan cahaya putih keemasan di bawah kakinya. Bentuknya menyerupai manusia namun wajahnya tak terlihat karena transparan.

Maya tak tahu apa yang sedang terjadi dan siapa yang ada dihadapannya. Makhluk itu berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya. Maya takut dan mengulurkan tangannya dengan gemetar untuk berjabat tangan dengan makhluk itu. Begitu tangan Maya menempel dengan makhluk itu, sekelebat gambaran muncul di dalam pikiran Maya mengenai Alam Semesta, Bumi, kehidupan ini, kehidupan di planet lain, kehidupan asal makhluk itu dan asal muasal kehidupan. Sekelebat, begitu cepat namun Maya mendapatkan gambaran itu semua dengan jelas. Ia tersungkur karena kakinya tak kuat. Maya menangis melihat itu semua. Makhluk itu pun mengajaknya untuk masuk ke dalam benda besar itu. Tak ragu Maya mengikuti langkah makhluk itu dan masuk ke dalam benda itu. Suara bising kembali bergema, menggetarkan kesunyian malam dan meninggalkan jejak sebuah pola yang indah di ladang jagung itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar