Rabu, 14 November 2012

tersesat

Tak pernah suka rasanya tersesat, dulu maupun kini. Saat kecil beberapa kali kupernah tersesat, di toserba, di mall, di swalayan, di banyak tempat. Entah tak pernah fokus atau terlalu fokus pada hal lain, aku selalu lepas dari genggaman orangtuaku. Masih teringat betapa takutnya aku saat sadar hanya seorang diri, di tempat asing. Mukaku mungkin pucat sekali saat itu, darah seperti berhenti mengalir dan seluruh tubuhku tegang. Kusibuk memutar pandanganku, dengan panik berjalan ke sana ke mari mencari sosok-sosok yang kukenal. Biasanya aku berhasil menemukan mereka, atau aku yang ditemukan(?) Belum pernah sampai tersesat berhari-hari atau dicari lewat koran.

Rasanya sangat tak menyenangkan. Seperti kehilangan arah, panik, tak bisa mengendalikan pikiran. Saat itu, si Aku kecil begitu takut ditinggalkan sendiri, tak bisa pulang, dan mungkin takut tak bisa bertemu dengan keluarga lagi. Rasa itu tak pernah benar-benar hilang. Dengan kisah yang berbeda, ia muncul, hadir kembali. Bukan lagi karena tersesat di mall atau terlepas dari genggaman orangtua. Sekarang malah sepertinya senang jika tersesat ke tempat-tempat antah berantah dan hanya seorang diri. Rasa itu datang dari skenario lain. Lebih rumit sesuai dengan kadar mentalku yang semakin tua.

Aku andaikan rasa ini seperti berada dalam misi menuju sebuah kota besar yang penuh dengan berbagai kebutuhan dan fasilitas. Perjalanan jauh dan tak punya bekal secarik peta. Mengandalkan tebak-tebakan dan bertanya-tanya pada orang. Diberitahulah aku jalan mana yang harus kulewati. Terlalu lelah mungkin, aku begitu percaya untuk menelan semua perkataan orang itu. Katanya tak perlulah aku berlelah-lelah jalan puluhan kilometer untuk mencapai kota yang jelek itu. Sesampainya di sana pun aku akan kecewa karena kota itu sudah lama ditinggalkan, sudah lewat masa jayanya. Lebih baik pergi ke kota di sebelah Tenggara, kota baru yang lebih menjanjikan dan dekat jaraknya. Kuikuti saja perkataanya, kuputuskan untuk memutar arah dan pergi menuju Tenggara.

Di tengah perjalanan aku tersesat, tak ada petunjuk apapun tentang kota baru itu, tak ada pula orang-orang yang bisa kutanyai. Dalam hati kuingin berbalik lagi menuju kota awal tujuanku, karena kupikir lebih baik sampai di sana daripada kuhabiskan waktu lagi untuk mencari kota baru itu yang tak jelas di mana. Namun orang itu berusaha meyakinkanku untuk tetap menuju ke kota baru, aku pun goyah kembali dan meneruskan perjalanan ke sana. Semakin lelah rasanya, bekalku semakin tipis, kota itu tak juga kutemukan. Kemudian orang itu berkata kembali dengan manisnya, untuk memikirkan dengan bijaksana apakah aku ingin meneruskan mencari kota itu atau kembali saja ke misi awalku. Melihat bekal makanan dan minumanku yang tinggal sedikit ia menyarankan agar aku kembali saja ke kota awal tujuanku, mungkin kota itu tak begitu buruknya, masih bisa memberikan makanan daripada kelaparan tanpa tujuan. Kembali ke sana, di perjalanan bekalku habis dan begitu lemas tak bertenaga. Aku kesal, kesal pada orang itu, kesal pada diriku yang tak berpikir jernih mendengarkan suara hatiku sendiri. Kupunya tujuan lalu mengapa kini bagaikan orang yang tersesat? Lalu yang tersisa hanya penyesalan dan mati di tengah jalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar