Selasa, 29 Mei 2012

pulau impian

Di kesunyian malam, kumemilih naik ke atap. Berusaha merasakan kembali kenangan melihat isi langit. Saat kecil, melihat bulan dan bintang menjadi kegiatan setiap malam bersama ayah, seusai makan malam. Saat-saat di mana televisi belum menjadi benda yang menyibukkan kami. Kali ini kuputuskan untuk menikmati kenangan itu. Memandang jendela bumi, yang terbuka di malam hari dan memperlihatkan misteri besar nan jauh di sana. Kegelapan abadi.

Rasanya damai, juga sesak. Sudah begitu jauh kumelangkah, tenggelam dalam kesibukan dunia. Kerinduan teramat besar yang kutahan selama ini, rindu pada ayah, ibu, dan masa-masa kecilku. Kubiarkan air mata mengalir. Kumengadu pada alam semesta. Dan betapa indahnya keadaan ini, melepaskan seluruh perasaanku. Meluapkan semua beban hidup yang selama ini kusimpan sendiri. Melegakan.

Tak kuperhatikan sebelumnya, ada sebuah bintang yang terlihat begitu terang. Mengalahkan cahaya bintang-bintang lainnya. Ia bagaikan ibu seluruh bintang. Semakin tak wajar ketika bintang itu membesar, secara perlahan. Perasaanku tak lagi hanyut pada kenangan. Pikiranku kini tertuju pada kejadian aneh yang kusaksikan. Kuraba kantung celana, telepon genggam ternyata kutinggalkan di atas ranjang. Keadaan ini tak bisa kuabadikan, sayang sekali.

Sinarnya semakin terang, bahkan hampir seperti pagi. Kulihat kanan kiri, tak ada satu orang pun yang keluar rumah. Aku mulai tak nyaman dengan keadaan ini. Aku berdiri, melihat bintang itu yang semakin besar. Bukan, ia tak membesar, ia mendekat. Bintang itu mendekat, dan menuju kepadaku. Terlalu lama melihat cahayanya membuat mataku sakit. Kepalaku mulai terasa berat dan napasku menjadi sesak. Ini tak beres, benar-benar aneh. Kubertahan untuk tetap sadar, dan menengadahkan kepalaku, melihat benda apakah itu. Bukan batuan meteor seperti yang kukira, benda itu berbentuk seperti cakram, berwarna keperakkan. Atap yang kupijak bergetar, tubuhku limbung dan tersungkur karena kencangnya getaran. Napasku semakin sesak. Aku menangis karena takut. Tak mengerti apa yang sedang terjadi, dan kesadaranku hilang.

Kurasakan hangat menyentuh seluruh kulit tubuhku. Kuraba tempatku berbaring, lembut seperti pasir. Perlahan kubuka mata, dan mendapati diriku berada di sebuah pulau. Pulau yang tak seberapa besar, dengan pasir putih dan gradasi warna air laut yang indah sekali. Ini pulau yang sangat indah. Kuingat apa yang terjadi sebelumnya, dan tak tahu kenapa bisa berada di pulau ini. Benda perak itu... masih teringat jelas betapa bising suara yang dikeluarkannya. Kucelupkan kakiku ke tepian air laut. Belum kulihat seorang pun sejak tadi. Dan tampaknya memang tak ada. Hanya ada rimbunan pepohonan, seperti hutan kecil di tengah pulau.

Kunikmati angin yang berhembus. Air mataku mengalir kembali. Ini perasaan damai yang selalu kuimpikan. Tenang, tanpa beban. Kutersenyum, dan menikmati keadaan ini. Tak perlu kupikirkan bagaimana keluar dari pulau ini, bahkan tak penting bagiku di mana letak pulau ini. Aku bahagia. Kuputuskan untuk tetap berada di  pulau ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar