Selasa, 21 Februari 2012

liburan ketje

Tanggal 1-5 Februari jadi kesempatan kedua saya berkunjung ke Jogja. Kali ini menggunakan pesawat dengan paket promo, lumayan bisa menghemat biaya dan waktu perjalanan. Sebelum liburan, persiapan dilakukan dengan browsing-browsing penginapan serta objek wisata yang ada di sana, juga kendaraan umum apa aja yang bisa digunakan. Maklum liburan kali ini saya dan teman-teman sama-sama ga akrab dengan kota ini. Iya sih saya sebelumnya udah pernah ke Jogja tapi didampingi sama teman yang sudah tau medannya.

Ga ribet dan bikin pusing kok, secara masih menggunakan bahasa yang sama, ga perlu takut juga untuk jalan-jalan ke daerah yang belum pernah dikunjungi atau yang err.. pernah dikunjungi tapi lupa. Mencari penginapan murah di internet, lalu ketemulah tempat yang akhirnya jadi pilihan kami untuk menginap selama 5 hari di sana. Penginapan yang terletak di Jl. Rejowinangun No. 15a ini bernama Wisma Martha, kami memesan kamar yang berisi 6 ranjang, 2 ranjang tingkat dan 2 ranjang single, pendingin ruangan dan kamar mandi di dalam. Tempatnya nyaman, begitu melewati pintu gerbang disambut dengan deretan kamar-kamar yang memanjang, adem dengan banyak pohon bambu di depan kamar, dilengkapi kolam renang dan gedung pertemuan di dalam wisma. Setiap pagi mendapat sarapan, nasi kuning atau lontong, dengan segelas teh manis hangat. Per malamnya kami membayar IDR 173,000, dibagi untuk 5 orang jadi tidak terlalu mahal rasanya. Ditambah lagi keramahan Bapak pemilik, dalam melayani setiap penghuni kamar. Kami sempat nanya-nanya mengenai tempat wisata, lalu beberapa kali minjem pulpen, tali, dan setrika, mecahin 1 gelas, si Bapak masih ramah dan tetap tersenyum, saat pulang pun si bapak masih sempat berucap, "titip salam untuk keluarga, ya!" Ah, Bapak!


Wisma Martha dan di Dalam Kamarnya


Jalan-jalan di sana kami menggunakan kendaraan umum, beruntung di dekat penginapan terdapat halte Trans Jogja atau bisa juga naik bis yang berpenampakan seperti kopaja, kami nyebutnya sih bis nomor 4 harganya IDR 2,500. Pertama kalinya menggunakan Trans Jogja memang agak bingung, bingung yang paling awal itu cara masuknya, pintu keluar dan masuk err.. ga terlihat jelas bedanya. Haltenya kecil, jadi padet banget suasana di dalam halte. Dengan harga IDR 3,000 rute Trans Jogja hampir melewati seluruh wilayah kota Jogja, rutenya dibagi dengan nama 1A, 1 B, 2A, 2B, 3A, 3B, 4A dan 4B, entah kenapa setiap nyebut ini seperti lagi ngasi contekan waktu ujian. Sebagai pendatang yang awam, ya rasanya langsung pengen jedotin kepala dengan rute yang ribet dan bisnya yang datang setiap 15 menit sekali, itu menurut jadwal resminya yang nyatanya bisa molor jauh, sampai-sampai kita akrab dengan petugas loket di sana dan penumpang lain. Beruntung seperti masih banyak stok orang baik di sana, tanya jawab super rumit antara kami dengan petugas pun tetap dilayani sampai tuntas hingga kami merasa siap menggantikan tugas mulia mereka.

Nyantai, itu yang saya nikmati selama di Jogja, jangan harap melihat mobil ugal-ugalan atau banjir klakson di jalanan. Petugas bis Trans Jogja beda banget sama bis yang di Jakarta ini, ga ada tuh namanya cepet-cepet ga jelas kayak orang ngejar setoran, semua santaiii, tiap pemberhentian halte aja, mereka bisa berbasa-basi sejenak sama sesama petugas. Di tanya ini itu dijawab dengan ramah dan sumringah. Begitu juga dengan naik bis nomor 4 yang serupa tapi sedikit tak sama dengan kopaja, kondekturnya ramah, supirnya juga baik hati dengan ga bikin kita jantungan dengan rem mendadak atau nyalib sana sini atau bahkan berantem waktu di jalan, itu semua ga ada, senangnya!

Jalan-jalan tanpa nyobain kuliner itu rasanya dosa besar! Selama di sana, mulut dimanjakan dengan bermacam rasa, dan tubuh dihujani kutukan karena semakin melebar. Beberapa makanan yang dicoba kami dapatkan dari informasi hasil browsing, seperti jajanan di Lapangan Karang dan Soto Sulung Madura di Stasiun Tugu. Di Lapangan Karang kami mencoba sate sapi, yang ternyata dihidangkan dengan lontong. Saya juga mencoba tongseng kambing yang penjualnya masak menggunakan arang, unik tapi lama, berhubung perut sudah keroncongan. Menyantap dengan lahap dalam suasana lesehan di pinggir jalan. Harganya terjangkau cuma lokasinya aja yang sedikit ribet untuk dijangkau.


Sate dan Tongseng di Lapangan Karang

Soto Sulung Madura yang letaknya di Stasiun Tugu juga jadi pengalaman wisata kuliner di Jogja. Tempatnya sederhana, harganya terjangkau. Untuk soto daging IDR 9,000, soto campur IDR 6,000, nasi dalam bungkusan kecil IDR 5,00, es teh/jeruk IDR 2,000, teh/jeruk panas IDR 1,500, tambah telur IDR 1,500. Pesanan datang, soto di dalam mangkuk dengan alas piring. Saya dan teman-teman lalu mengambil beberapa bungkus nasi lalu meletakkan ke piring. Sambil nikmatin soto di dalam mulut, saya lihat keadaan sekitar, dan eh, ternyata saya memperhatikan cara makan mereka berbeda, atau cara makan kami yang berbeda ya? Mereka tidak menggunakan alas mangkok itu sebagai piring untuk nasi. Beberapa orang mencemplungkan nasi ke dalam soto, ada juga seperti bapak yang duduk di samping saya, menyendokkan nasi sambil beberapa kali mencelupkan sedikit ke dalam kuah soto. Ah, itu sempet buat saya tersenyum, beda tempat punya beda cara makan. Kami yang biasa makan nasi dan soto terpisah punya cara sendiri memakannya.


Soto Sulung Madura

Sewaktu di Kaliurang, kami juga mampir ke sebuah rumah makan yang punya menu andalan yaitu Jadah Tempe, saya sempet nyoba juga, rasanya seperti tempe bacem, ada juga tahu bacem, dimakan bersama sesuatu yang mirip uli tapi lebih lembut teksturnya. Di rumah makan itu, yang sayangnya saya lupa namanya, saya coba nasi pecel ayam. Air mata berlinang ketika merasakan ayam gorengnya, rasanya enak sekali. Bumbu pecel dan sayurannya juga enak. Minumnya susu coklat hangat karena di sana sudah dingin udaranya.


Nasi Pecel Ayam dan Susu Coklat Hangat

Hal menarik lainnya yang saya perhatikan di Jogja, yaitu penggunaan sarung tangan plastik untuk makan nasi pecel, mungkin ga ada air untuk cuci tangan kali ya, biasanya juga ditemuinnya di sepanjang jalan Malioboro atau sekitar pasar Bringharjo. Menu-menu lainnya yang saya coba ada rawon, gudek di daerah Wijilan, nasi kucing di Angkringan, serta beberapa cemilan seperti gorengan, martabak telor atau cilok yang ada di sekitar pasar malam.

Menjadi tujuan wajib sepertinya untuk mengunjungi Borobudur ketika liburan di sana. Kali ini saya merasakan pengalaman menggunakan batik sebagai syarat bagi pengunjung yang akan memasuki kawasan Candi Borobudur. Dengan pemakaian lilitan batik di pinggang, semoga sih lebih terbangun suasana sakral dan memang lebih seru jadinya. Pada bagian puncak Candi diawasi beberapa petugas karena pengunjung tidak diperbolehkan untuk menaiki atau menginjak stupa karena masih dalam tahap perbaikan, dan memang sebaiknya ga diinjek juga untuk menjaga kelestarian. Tapi tetep aja beberapa pengunjung masih bandel sampai-sampai petugas kasih peringatan berulang kali menggunakan pengeras suara agar pengunjung turun dari stupa-stupa di sana.

Sehabis dari Borobudur tanpa mampir ke Kaliurang juga sayang sekali rasanya. Nikmatin udara sejuk dan pemandangan pegunungan dan sawah yang indah. Kini juga tersedia Lava Tour bagi yang mau melihat kondisi perkampungan yang tertutup pasir dari Gunung Merapi, harganya IDR 200,000++, saya menggunakan kendaraan pribadi saja jadi lebih ngirit. Eh iya untuk ke Borobudur bisa menggunakan bis, tapi waktu itu kami diantar sama kenalan dengan mobil pribadinya. Takjub liat bukit dan pemandangan gunung yang berkabut, beberapa kali turun hujan dan udara semakin dingin. Kami menyempatkan berfoto dengan latar belakang gunung dan salah satu rumah yang rusak akibat terkena awan panas. Saya melihat beberapa rumah yang rusak di sana temboknya dilukis dan bagus sekali, sayangnya saya ga foto, kreatif deh pelukisnya. Kami juga mengunjungi sungai yang tertutup material vulkanik akibat lahar dingin. Beberapa alat berat dan truk masih terus ngeruk pasir yang sepertinya ga habis-habis.


Kaliurang

Kami mampir ke kota Solo menggunakan kereta Prameks seharga IDR 10,000 dengan waktu perjalanan kurang lebih 1 jam. Di sana kami menggunakan taksi Avanza, tarif buka pintunya IDR 4,500. Dengan bantuan si Bapak supir kami mencari rumah makan Bebek Goreng Pak Slamet lalu diantarkan ke daerah Kampung Batik Laweyan.


Tiket Kereta Api Prameks


Ibu-ibu sedang Membatik di Depan Salah Satu Butik di Laweyan

Liburannya menyenangkan, bareng temen-temen yang super gila belanja! Hampir setiap hari kami pergi ke Malioboro, borong tak terkendali. Jadi tempat favorit untuk cari cinderamata adalah Mirota Batik, banyak kekalapan terjadi di sana. Dengan andong, kami menuju toko Bakpia 25 untuk membeli oleh-oleh. Kenalan dengan si kuda penarik kami, namanya Tentrem, usianya 2 tahun dan seorang gadis, hehe...

Memperhatikan banyak hal-hal kecil, seperti kebiasaan di sana yang menyebut lokasi dengan arah mata angin, beda persepsi untuk 'dekat' bagi kami dan mereka, katanya berjalan 1 km di sana dekat, kami jalan sampai kaki berserakan entah di mana. Dapet cerita unik mengenai sejarah salah satu Hotel besar, dipermainkan tarif sama tukang becak, dan pengalaman seru lainnya. Selalu suka mengunjungi kota ini, suka dengan suasananya, orang-orangnya, berharap bisa ke sana lagi : )


Foto Bareng di Borobudur, Kaliurang, dan Kampung Batik Laweyan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar