Senin, 30 Januari 2012

kebahagiaan di dalam hati

Kebahagiaan berasal dari dalam hati, beberapa menyebutnya pikiran. Hati dan pikiran, merujuk pada makna yang sama. Keduanya abstrak, tak memiliki rupa. Mereka berbeda letak, satu di dada, yang lainnya berada di kepala. Apapun itu mereka dianggap sama, dua yang merupakan satu. Saling terhubung, saling mempengaruhi. Aku menciptakan kebahagiaan, sama seperti kamu. Segala hal menjadi indah atas keputusan pikiranku. Sebaliknya akan tak berarti dan mengerikan jika dia memerintahkan demikian pula.

Lingkungan membantuku mengenal kebahagiaan, menunjukkan seperti apa wujudnya. Wujud dari sesuatu yang tak dapat kugapai. Namun mereka tak bisa menunjukkan rasanya. Satu-satunya yang mampu membuatku merasakan apa yang kulihat itu adalah hatiku. Ia berkuasa untuk membiarkanku bahagia.

Saat tak ada kebahagiaan, apakah hati diisi oleh kesedihan? Atau ia menjadi kosong, tanpa materi, materi tak kasat mata. Aku bahkan tak tau jawabannya. Pikiranku seakan lupa apa yang terjadi saat aku tidak bahagia.

Mungkin juga hati terisi kebahagiaan sejak awal mula. Ia adalah penghasil kebahagiaan, memiliki katup yang terbuka tutup sesuai keperluanku. Kalau seperti itu, semoga saja ia tetap berkelimpahan isinya. Entah bagaimana jika hatiku kosong dan tak lagi bisa merasakan kebahagiaan.

Melalui malam dan siang, kuingin dipenuhi kebahagiaan. Ia adalah kekuatan, penyemangat tubuhku untuk menghasilkan cita-cita, menciptakan cinta dan kehangatan. Pikiranku dipenuhi kebahagiaan, untuk mencintai hidup ini, semangat mengembara di atas dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar