Senin, 02 Mei 2011

mengukur diri

Malam ini damai sekali ditemani suara katak, membuat suasana seperti di desa. Beberapa hari ini langit terus menurunkan hujan dengan deras, mungkin itu yang mengundang katak itu datang ke halaman rumah. Terselip pikiran yang melintas tadi, ketika berkumpul dengan keluarga, saya ngerasa semakin menjadi egois. Semakin asyik dengan dunia sendiri dan sangat kurang memberi perhatian, kepada keluarga dan juga teman serta lingkungan.

Saya menyadari ini pasti bentuk pertahanan diri saya yang selalu merasa tak pernah dianggap ada. Konyol, sudah sadar itu buruk masih juga dilakukan. Seperti memahami dengan jelas artinya mengasihi tapi ga saya lakukan. Ya ga ada gunanya juga.

Saya sadar terlalu mengedepankan emosi, sulit untuk bersikap praktis. Mungkin logika saya agak sulit berjalan. Saya tau mana yang baik dan pinter banget menasehati orang lain, tapi diri sendiri ga melakukannya. Apakah ini bentuk bermuka dua? Atau lebih jauh lagi kepribadian ganda?

Cuek sama orang, jarang menyapa, jadinya buat orang berpikir saya sombong, lalu mereka menjauh, dan saya kesepian. Mengerikan sekali. Padahal saya sangat membutuhkan teman. Sampai saat ini saya masih belum mengerti dengan salah satu bagian sifat saya yang itu. Menginginkan tapi ga berani meminta. Ya, berlaku juga dalam asmara. Naas!

Saya butuh perubahan, mau jadi orang yang ramah dan menyenangkan. Paling tidak membuat orang disekeliling saya bahagia. Tadi saya membaca sebuah kalimat, yaitu orang yang selalu merasa susah adalah orang yang tidak pernah memberikan kesenangan dan kebahagiaan pada lingkungannya. Saya jleb banget loh bacanya, ga mau kayak gitu. Masih perlu banyak belajar untuk bisa bijaksana dan dewasa, saya mau untuk terus belajar!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar